Diclofenac Sodium Obat Apa Wajib Kamu Baca
Diclofenac Sodium Obat Apa Wajib Kamu Baca

By Robby Prihandaya 22 Apr 2024, 12:30:09 WIB Kesehatan
Diclofenac Sodium Obat Apa  Wajib Kamu Baca

Keterangan Gambar : Diclofenac Sodium Obat Apa


Diklofenak adalah obat yang digunakan untuk menghilangkan rasa sakit dan peradangan. Obat ini dapat meredakan nyeri seperti kram menstruasi, nyeri pasca operasi, atau nyeri sendi akibat radang sendi.

Diklofenak adalah obat antiinflamasi nonsteroid yang menghambat produksi prostaglandin, zat yang memicu respons peradangan jika terjadi cedera atau trauma. Dengan cara ini gejala peradangan seperti nyeri atau bengkak bisa hilang.

Nama dagang Diklofenak : Arflam, Cataflam, Kalium diklofenak, Natrium diklofenak, Flamar, Flamifa, Kaditic, Kaldifen, Klotaren, Laflanac, Scanaflam, Voltaren, X-Flam, Zelona Peringatan sebelum mengonsumsi Diklofenak

Baca Lainnya :

Ada beberapa hal yang harus Anda perhatikan sebelum menggunakan diklofenak, antara lain:

Beritahu dokter Anda tentang riwayat alergi Anda. Diklofenak tidak boleh dikonsumsi oleh orang yang alergi terhadap obat ini, aspirin, atau obat antiinflamasi nonsteroid lainnya.

Beritahu dokter Anda jika Anda baru saja menjalani operasi bypass jantung atau berencana untuk menjalaninya. Pasien dengan kondisi ini sebaiknya tidak menggunakan diklofenak.

Beritahukan kepada dokter apabila Anda sedang atau pernah menderita asma, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, kelainan perdarahan, anemia, perdarahan saluran cerna, stroke, tukak lambung, tukak lambung, edema, porfiria, penyakit hati atau ginjal.

Beritahu dokter Anda jika Anda merokok atau minum alkohol. Kondisi ini mungkin meningkatkan risiko efek samping.

Wanita hamil sebaiknya tidak mengonsumsi diklofenak, terutama pada trimester ketiga kehamilan.

Tujuannya untuk menghindari interaksi obat yang tidak diinginkan.

Jika Anda mengalami reaksi alergi obat atau efek samping serius setelah mengonsumsi diklofenak, segera konsultasikan ke dokter.

Dosis dan aturan pakai diklofenak.

Di sini dosis diklofenak tergantung pada usia pasien dan penyakit yang akan diobati:

Kegunaan: Meredakan nyeri akut dan peradangan akibat osteoartritis, rheumatoid arthritis, atau setelah operasi.

Dewasa: 75-100 mg per hari dalam dosis terbagi. Dosis maksimum yang di berikan atau di anjurkan adalah 150 mg per hari.

Anak-anak ≥ 14 tahun: 75 hingga 100 mg per hari dalam 2 atau 3 dosis terbagi.

Tujuan: untuk meredakan kram menstruasi.

Dewasa: 50 hingga 100 mg sejak timbulnya gejala menstruasi. Dosis pemeliharaan maksimum adalah 150 mg per hari dalam dosis terbagi.

Tujuan: Meredakan migrain akut

Dewasa: dosis awal 50 mg sejak serangan pertama. Jika migrain tidak kunjung hilang setelah 2 jam, minum lagi 50 mg. Jika gejalanya menetap, minumlah 50 mg setiap 4-6 jam. Dosis maksimumnya adalah 200 mg per hari.

Cara mengonsumsi diklofenak yang benar

Sebelum mengonsumsi diklofenak, ikuti anjuran dokter dan baca petunjuk pada kemasan. Jangan pernah  menambah atau mencoba mengurangi dosis tanpa adanya persetujuan dokter atau orang yang merawat Anda.

Untuk mendapatkan hasil pengobatan terbaik, ikuti cara konsumsi Diklofenak yang benar:

  • Tablet atau kapsul diklofenak bisa diminum sebelum atau sesudah makan. Untuk menghindari sakit perut, minumlah diklofenak dengan atau setelah makan.
  • Tablet atau kapsul diklofenak harus ditelan dengan air.
  • Jangan berbaring setidaknya 10 menit setelah mengonsumsi diklofenak.
  • Jika Anda lupa meminum diklofenak, segera minum begitu Anda ingat. Namun, jika sudah mendekati jadwal dosis berikutnya, lewati dosis yang terlewat dan jangan menggandakan dosis.
  • Interaksi antara diklofenak dan obat lain

Efek interaksi yang mungkin terjadi bila penggunaan diklofenak dengan obat lain antara lain:

Peningkatan risiko perdarahan, termasuk perdarahan gastrointestinal, jika digunakan bersamaan dengan obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID), antikoagulan, antidepresan SSRI, atau kortikosteroid.

Peningkatan risiko hiperkalemia, mis. H. tingginya kadar kalium dalam darah, jika digunakan bersamaan dengan diuretik hemat kalium, siklosporin atau tacrolimus.

  • Mengurangi efektivitas ACE inhibitor atau beta-blocker.
  • Peningkatan kadar fenitoin, metotreksat, litium atau digoksin dalam darah.
  • Peningkatan risiko kerusakan ginjal bila digunakan bersama

Cukup sampai sini penjelasan dalam artikel yang aku buat semoga bermanfaat untuk kalian semua.




Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment